Kritik terhadap Fenomena Ketergantungan Media Sosial di Kalangan Siswa dan Guru

Kritik terhadap Fenomena Ketergantungan Media Sosial di Kalangan Siswa dan Guru




Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam duni pendidikan. Kehadiran media sosial, khususnya TikTok, memberikan banyak kemudahan dalam menyebarkan informasi, berbagi pengetahuan, dan membangun kreativitas. Namun, di balik manfaat tersebut, muncul fenomena yang patut menjadi perhatian bersama, yaitu ketika siswa maupun guru terlalu larut dalam budaya media sosial sehingga mengabaikan pengembangan wawasan budaya, sosial, psikologis, dan agama. Fenomena ini menunjukkan adanya ketimpangan antara kemampuan menggunakan teknologi dengan kedalaman pemahaman terhadap nilai-nilai kehidupan.

Saat ini tidak sedikit siswa yang lebih mengenal tren viral, tantangan media sosial, atau tokoh-tokoh internet dibandingkan sejarah bangsanya sendiri, nilai-nilai budaya daerah, maupun persoalan sosial yang terjadi di lingkungan sekitar. Mereka dapat menghabiskan berjam-jam untuk menonton video pendek, tetapi kesulitan memahami isu-isu penting yang berkaitan dengan pendidikan, kemasyarakatan, atau perkembangan ilmu pengetahuan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemudahan akses informasi belum tentu menghasilkan peningkatan kualitas pengetahuan. Justru sebaliknya, jika tidak disertai kemampuan berpikir kritis, media sosial dapat menjadikan seseorang hanya sebagai konsumen hiburan yang pasif.

Fenomena serupa juga dapat ditemukan pada sebagian guru. Sebagai pendidik, guru memiliki tanggung jawab untuk menjadi teladan dalam penggunaan teknologi yang bijaksana. Akan tetapi, ketika guru lebih fokus mengikuti tren demi mendapatkan perhatian di media sosial daripada meningkatkan kompetensi profesional dan intelektualnya, maka fungsi pendidikan dapat mengalami pergeseran. Guru seharusnya menjadi figur yang mampu membimbing siswa dalam menghadapi tantangan zaman, bukan sekadar menjadi pengikut arus popularitas digital. Kehadiran guru di media sosial tentu bukan sesuatu yang salah, tetapi perlu diarahkan pada tujuan edukatif dan pengembangan karakter peserta didik.

Dari sisi budaya, dominasi konten-konten hiburan sering kali menyebabkan berkurangnya apresiasi terhadap nilai-nilai budaya lokal. Banyak generasi muda yang lebih akrab dengan budaya populer global dibandingkan tradisi, bahasa daerah, atau kearifan lokal yang menjadi identitas bangsanya. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka akan terjadi pengikisan kesadaran budaya yang dapat melemahkan jati diri masyarakat.

Dari aspek sosial, penggunaan media sosial yang berlebihan juga berpotensi mengurangi kualitas interaksi langsung antarmanusia. Hubungan sosial yang seharusnya dibangun melalui komunikasi nyata sering kali tergantikan oleh interaksi virtual yang dangkal. Akibatnya, kemampuan berempati, bekerja sama, dan memahami kondisi orang lain dapat mengalami penurunan. Seseorang mungkin memiliki banyak pengikut di media sosial, tetapi kurang mampu membangun hubungan sosial yang sehat di dunia nyata.

Sementara itu, dari sisi psikologis, ketergantungan pada media sosial dapat memunculkan kecenderungan untuk selalu mencari validasi dari orang lain. Jumlah suka, komentar, dan pengikut sering dijadikan ukuran keberhasilan atau harga diri. Padahal, kebahagiaan dan kepercayaan diri yang sehat tidak seharusnya bergantung pada penilaian publik di dunia maya. Ketika seseorang terlalu bergantung pada pengakuan digital, ia rentan mengalami kecemasan, tekanan mental, dan kehilangan jati diri.

Dalam perspektif agama, penggunaan teknologi seharusnya menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas hidup dan mendekatkan diri kepada nilai-nilai kebaikan. Namun, apabila sebagian besar waktu dihabiskan untuk aktivitas yang kurang bermanfaat, maka kesempatan untuk belajar, beribadah, dan melakukan hal-hal produktif menjadi berkurang. Agama mengajarkan pentingnya memanfaatkan waktu secara bijaksana serta menjaga keseimbangan antara kebutuhan dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, yang perlu dikritik bukanlah keberadaan TikTok atau media sosial itu sendiri, melainkan cara penggunaannya yang tidak seimbang. Siswa dan guru harus mampu memanfaatkan teknologi sebagai alat pengembangan diri, bukan menjadikannya sebagai pusat kehidupan. Kemajuan digital harus diiringi dengan penguatan wawasan budaya, kepedulian sosial, kesehatan psikologis, serta pemahaman agama yang baik. Dengan demikian, pendidikan dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki karakter, kebijaksanaan, dan tanggung jawab sebagai manusia yang berilmu.
Yang menjadi masalah bukanlah TikTok-nya, melainkan ketika siswa dan guru lebih sibuk mengejar tren daripada memperkaya diri dengan ilmu, budaya, kepedulian sosial, kesehatan mental, dan nilai-nilai agama. Akibatnya, seseorang bisa sangat aktif di media sosial, tetapi miskin gagasan, minim literasi, kurang peka terhadap lingkungan, dan kehilangan arah dalam memanfaatkan teknologi. Pendidikan seharusnya melahirkan manusia yang berkarakter dan berwawasan luas, bukan sekadar pengguna media sosial yang mengikuti tren tanpa makna.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIODATA DIRI

Rahasia Anak Muslim yang Disukai Allah

Tantangan Implementasi Pembelajaran Berbasis Teknologi